Udah Banyak Baca Buku, Ikut Seminar dan Workshop. Kenapa Belum Ada Perubahan?

U

“kok hidup gue gini-gini aja ya? Katanya banyak baca buku bisa menghasilkan perubahan?”

Mungkin kamu pernah mendengar beberapa pembicara publik yang mengungkapkan.

Setelah membaca buku A, terjadi perubahan, setelah kita ikuti, kok rasanya biasa aja?

“lalu, apa yang salah?”

Mungkin penbincangan ini sempat terbesit dalam benak kamu, begitupun aku. Tapi sekarang aku punya jawaban dan solusinya.

Maukah kamu menyimaknya sampai akhir? Aku harap kamu bisa memetik manfaat dari blogpost ini.

Sudah kusiapkan untukmu, sebuah jawaban atas pertanyaan yang kutulis di judul blogpostku ini.

Mari, ikut denganku.

 

Apa Motifmu?

“Manusia adalah musuh bagi apa yang tidak dia ketahui” ~ Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Motif atau motivasi atau alasan kita melakukan sesuatu. Semakin jelas, semakin baik.

Yang terjadi di kebanyakan orang adalah mereka nggak tau apa yang benar-benar diinginkan.

“yah, hidup itu bagaikan air mengalir aja”,

Iya, kalau mengalirnya ke laut, kalau ke selokan? Hehe…

Motif ini yang mengarahkan kita ke tujuan dan sesuatu yang kita ingin dapatkan.

Misal, kita ingin membangun kebiasaan. Ketika membaca buku James Clear yang judulnya Atomic Habits.

Boleh jadi kita langsung merasakan perubahannya. Ketika itu aku merasa dalam diriku nggak konsisten dalam melakukan hal.

Setelah kutahu buku Atomics Habits ini rilis versi bahasa Indonesia-nya, segera kubeli, kubaca, dan kupratekkan.

WOW!

Hasilnya mengesankan, aku benar-benar bisa membentuk kebiasaanku. Nah, itu contoh ketika motif dengan solusi bertemu. Langsung ada perubahan, ketika mengambil tindakan.

Jangan sampe beli buku, ikut seminar dan workshop karena “wah, si itu juga ikut”, “wah, si itu juga baca buku itu”, jangan hanya karena ikut-ikutan aja.

Dampaknya akan frustasi, yang diharapkan apa, yang didapatkan apa.

Kamu mesti memperjelas apa yang kamu inginkan atau masalah apa yang kamu ingin selesaikan.

Buku, seminar, workshop hanyalah alat bantu untuk mempercepat solusi itu hadir. Dan nggak ada jaminan setelah baca buku, ikut seminar dan workshop dapet jawaban.

Kenapa?

 

Inilah Sebabnya Perubahan Belum Terjadi

Mungkin kamu sempat membaca testimoni dari para alumni dan pembaca.

Merasa ingin sekali seperti mereka, tapi kok rasanya ketika ikut dan membacanya, nggak seperti mereka ya?

Mulai timbul menyalahkan, “ah, payah nih nggak berhasil”. Padahal buku, seminar, dan workshop hanyalah alat kita untuk meraih apa yang kita inginkan atau menyelesaikan masalah yang ingin kita selesaikan.

Ilmu yang kita dapetin dari ketiga hal itu, sepenuhnya tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab penulis, pembicara, dan pelatih.

Termasuk kamu mengetahui bagaimana meraih perubahan dari tulisan ini, adalah tanggung jawab kamu, setelah tau, apakah kamu akan menindaklanjutinya?

Jadi, apa sebabnya belum ada perubahan?

Nah, ini yang menarik, ternyata sebabnya ada di perbedaan belief, latar belakang, pemahaman, dan motiflah yang membedakan hasil dari seseorang mengikuti workshop dan seminar.

Bukan aku yang mengatakan itu, tapi Joe Vitale dalam Expect Miracles.

Vitale bilang kenapa banyak orang belum ada perubahan juga, ya salah satunya beliefnya belum selaras dengan pemberi materi itu.

Misal, aku punya belief, kalau mau mudah jualan di digital, mesti membangun unique story dan lebih menjual dari pengalaman pribadi.

Kalau menurut kamu beliefnya “wah, jangan show up, cukup di balik layar aja”. Nah, ini udah menghambat prosesnya perubahan. Karena beliefnya belum selaras.

Kamu nggak akan melakukan apa yang aku sarankan, yakni membangun unique story diri kamu sendiri. Karena udah berbeda beliefnya.

Seperti kata Dewa Eka Prayoga “kalau Anda ingin meniru seseorang, jangan meniru kulitnya. Tapi tirulah beliefnya”.

Menariknya untuk meniru belief seseorang bacalah buku yang ditulisnya. Karena setiap buku yang ditulis, semua perhatian dan pemikiran dicurahkan.

Dulu, aku nggak paham apa yang dimaksud Kang Dewa (begitu sapaan akrabnya), sekarang aku memahaminya ketika ada kompetitor kang Dewa membuat hal yang sama.

Apa itu?

Membuat perusahaan yang menjual buku edukasi bisnis dengan harga premium (salah satu bisnis kang Dewa menjual buku dengan harga premium), pada akhirnya karena yang ditiru kulitnya aja, ya nggak bertahan lama.

Karena apa…?

Ya, karena beliefnya belum dapet.

Akhir-akhir ini juga aku mulai mengamati bagaimana Penulis di Indonesia bisa sukses. Misal, Raditya Dika.

Kalau seandainya kamu meniru bagaimana Raditya Dika menulis buku, mungkin dicap sebagai followers-nya Radit.

Setidaknya ini yang aku dapatkan ketika menonton video wawancara Helmi Yahya dengan Raditya Dika.

“kalau jadi paling pinter, itu udah banyak. Kalau jadi paling beda, itu hanya kita doang”. Ada lagi kutipan yang menurutku itu beliefnya Radit, “aku harus jadi fans pertama dari apapun yang aku bikin”.

Kamu bisa merasakan beliefnya seorang Raditya Dika, kan?

Aku rasa, sampe di sini kamu mulai mengangguk-anggukkan kepala, betapa pentingnya hal yang tak terlihat ini adalah penyebab dari belum ada perubahannya dari diri kita.

 

Apa Hubungannya Belief dengan Perubahan?

“Awalnya dari perasan, menjadi pikiran, lalu ucapan, dan tindakan. Hingga akhirnya itulah yang menjadi nasib” ~ Buku Karakter 360

Perubahan itu berawal dari tindakan dan kalau beliefnya (perasaan dan pikiran) belum selaras, maka tindakan kita akan menjauh dari hal yang kita inginkan.

Gimana, kebayang ya?

 

Perubahan Terjadi karena Ada Tindakan

“Take Action, Miracle Happen” ~ Tung Desem Waringin

Seberapa sering kamu mendengar begitu kalau TDW lagi ngasih training.

Ya, tindakan pintu gerbang untuk mengubah pengetahuan menuju perubahan. Menjadi lebih baik atau tidak lebih baik.

Namun yang jelas, tindakan yang kita lakukan, ketika hasilnya tak sesuai harapan. Kita bisa ambil pembelajarannya, untuk perbaikan.

Bukankah kata Albert Einstein berkata “melakukan hal yang sama dan berharap hasil beda, adalah kegilaan”. Wah!

Jadi, kamu mesti melakukan apa yang udah kamu ketahui.

“tapi, kak aku bingung, mulai darimana?”

Ya, aku pun merasakan demikian ketika terlalu banyak baca buku motivasi, malah bingung mesti ngapain.

Kalau kata Aa Gym “mulailah dari hal kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah sekarang juga”. Ya, apa pun itu.

“bagaimana menerapkan buku-buku yang aku baca, Kadika?”

Teruslah membaca, ya.

Aku jadi penasaran, apa yang akan kamu rasakan setelah tau ini.

 

Kalau Nggak Ada “Kendaraan”, Buatlah “Kendaraan” Itu

Aku menyadari apa-apa yang aku baca tidak selalu berhubungan tentang cara sukses. Karena nggak ada buku yang spesifik banget bagaimana meraih kesuksesan.

Karena meraih sukses itu seni, apa yang dibahas itu lebih ke melengkapi bekal untuk menemani kita selama di perjalanan menuju sukses.

…dan

Kamu sebentar lagi akan tau seperti apa sukses itu.

Setiap buku yang kita baca, membutuhkan “kendaraan” untuk kita terapkan dari pengetahuan yang kita dapatkan. Entah dalam pengembangan diri pribadi atau karier atau bisnis.

Karena buku yang kita baca, ibarat guide dalam “kendaraan” yang kita gunakan saat ini.

Misal, kamu baca buku tentang leadership, tapi kamu mengharapkan perubahan dari buku itu. Nah, mungkin buku itu bakalan dapet banget ketika jadi di pimpinan di perusahaan.

Ini yang terjadi oleh diriku, di tahun 2019, aku diizinkan menjadi Head of Digital Marketing, yang mana aku diberi tanggungjawab untuk memimpin tim.

Aku nggak tau bagaimana cara memimpin tim, akhirnya aku mencari buku yang membahas leadership. Jadi, disesuaikan konteksnya.

Terkadang kita sendiri nggak jelas, ingin perubahan dalam hal apa dulu.

Kita baca buku motivasi, katakanlah bagaimana mengelolah emosi, tapi berharap bisa punya banyak uang. Ya kurang tepat.

Itulah kenapa kamu mesti beresin motif dan tau maunya apa. Kalau ingin punya banyak uang, belajarlah bagaimana uang itu datang.

Misal, jualan.

Dari jualan aja banyak banget yang dibahas.

Jualan jasa, jualan produk, bagaimana marketing jasa. Nah, kalau kamu udah jelas kepengen apa, kamu mesti tau selanjutnya apa yang mesti kamu lakukan. Baca buku, ikut seminar, atau ikut workshop.

Nah, kalau kasusnya kamu nggak ada “kendaraan”, maka kamu sendiri yang mesti buat. Ibarat membangun bisnis pribadi atau professional services. Kamu sendiri yang tau, menarik kan?

 

Selanjutnya Apa?

Setelah kamu tau maunya apa dan mesti ngapain. Sekarang kamu perlu menjawab beberapa pertanyaan ini, agar kamu semakin mendapatkan perubahan dari yang kamu harapkan.

#1. Sekarang kamu posisinya dimana?

Semakin sadar posisi kamu dimana, semakin mudah kamu beranjak darinya.

#2. Mau Kemana?

Semakin jelas kamu ingin kemana, mudah sekali untuk mencapainya, soal caranya bagaimana itu belakangan. Yang penting tau dulu.

#3. Siapa Role Modelnya?

Apapun yang kamu ingin tuju, selalu ada orang yang udah mencapainya. Maka, cara tercepatnya adalah dengan menirunya.

Kamu bisa tontoh video IGTV dari Hingdranata Nikolay, Modeling Tanpa Ketemu.

 

Pilihlah Pembelajaran yang Relevan

Karena kamu udah paham, kalau pembelajaran yang didapatkan dari tiga hal itu adalah bekal. Maka pilihlah pembelajaran yang relevan.

Kalau kamu ingin menjadi Content Writer, ya bisa ikut Kursus Content Writer.

Kalau kamu ingin menjadi Public Speaker, ya bisa ikut Pelatihan Public Speaking.

Semakin relevan, semakin kamu mudah mencapainya.

 

Mengubah Pengetahun Menjadi Penghasilan

Salah satu cara mengubah pengetahun menjadi penghasilan adalah menuliskannya dengan versi terbaikmu.

Inilah kenapa aku dan tim impactfulwriting.com membuat e-Modul Mengemas Tulisan Jadi Penghasilan.

Kata kuncinya adalah mengemas.

Mungkin kamu udah banyak banget baca buku pengembangan diri (self-improvement), terus bingung gimana sih agar bisa menghasilkan uang (kaya) ?

Ya itu, mengubah pengetahuan itu jadi sebuah karya, kamu kemas dengan perspektif kamu.

Ini udah terbukti oleh diriku sendiri. Nah, inget, beliefnya mesti diselaraskan dulu, agar bisa menghasilkan hasil yang sama.

Woke?

 

Kaya itu Proses, Sukses itu Definisi

Di awal aku menyinggung, seperti apa sukses itu.

Aku dapatkan pemahaman ini ketika merenungi, apa yang aku inginkan dan apa yang aku lakukan.

Aku menyukai buku-buku, khususnya self-improvement, motivasi, dan yang sejenis lainnya.

Lalu, aku berpikir, kalau sukses itu meraih apa yang kita inginkan dengan berharap kalau sukses mendapatkan kebahagiaan.

Kenapa nggak menyederhakan definisi sukses?

Kalau sukses yang diinginkan adalah perasaan senang, damai, tenang, bahagia, dan puas.

Nah, timbullah kata-kata ini “kaya itu proses, sukses itu definisi”. Karena menghasilkan kekayaan itu butuh ilmunya, butuh proses yang tak instan.

Kalau sukses mah sesederhana definisi kita. Hanya aja yang terjadi di luar sana, terlalu rumit membuat syarat untuk sukses (merasa bahagia). So, sederhanakan dan bahagia sekarang juga.

Sejujurnya yang kita inginkan perubahan secara finansial.

Perubahan finansial terjadi ada proses yang kita lakukan, juga menyelaraskan belief kita dengan orang-orang yang udah lebih dulu mencapainya.

Kalau definisi sukses aku “udah bisa bernafas setiap pagi juga udah sukses, udah bahagia”. Cuman sekarang lagi otw kaya.

Bahkan aku suka guyon kalau seandainya dalam reunian, ada teman yang berkata “weh, udah sukses nih?”.

Aku akan menjawab “sukses sih udah, cuman lagi otw kaya”. Wkwk.

Apakah kamu bisa membayangkan? Seperti apa definisi suksesmu?

Mungkin di beberapa sub judul dalam blogpost ini aku akan membedahnya lebih mendalam di lain kesempatan. Terima kasih.[]

About the author

Dwi Andika Pratama

Fulltime Writer. Book Addict. Love Writing and Marketing.

Add comment

Recent Posts

Recent Comments